Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam

Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam

Share this:

Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam – Menimbang bahwa, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diproklamasikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, pengakuan atas hak-hak yang setara dan tidak dapat dicabut dari semua anggota keluarga manusia ialah landasan independensi, kesamarataan serta perdamaian di bumi.

Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam

thetorturereport – Menyadari bahwa hak-hak itu berawal dari derajat yang melekat dari pribadi manusia, Mempertimbangkan kewajiban negara-negara di bawah Piagam, khususnya Pasal 55, untuk mempromosikan penghormatan dan kepatuhan universal terhadap, hak asasi manusia dan kebebasan fundamental, Memperhatikan pasal 5 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, keduanya menyatakan bahwa tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan atau dihukum yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat,

Dikutip dari ohchr.org, Memperhatikan juga Deklarasi tentang Perlindungan Semua Orang dari Siksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat, yang diadopsi oleh Sidang Umum pada tanggal 9 Desember 1975, Ingin mengefektifkan perjuangan melawan penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat di seluruh dunia, Telah menyetujui sebagai berikut:

Baca juga : Kejahatan Perang Yang Dilakukan Oleh Angkatan Darat Jerman di Prancis (1940-1944)

BAGIAN I

Pasal 1
1. Untuk tujuan Konvensi ini, istilah “penyiksaan” berarti setiap tindakan di mana rasa sakit atau penderitaan yang parah, baik fisik maupun mental, dengan sengaja ditimpakan pada seseorang untuk tujuan seperti memperoleh darinya atau orang ketiga informasi atau pengakuan. , menghukumnya atas tindakan yang dia atau orang ketiga lakukan atau dicurigai telah dilakukan, atau mengintimidasi atau memaksa dia atau orang ketiga, atau untuk alasan apa pun berdasarkan diskriminasi dalam bentuk apa pun, ketika rasa sakit atau penderitaan itu ditimbulkan oleh atau atas dorongan atau dengan persetujuan atau persetujuan dari pejabat publik atau orang lain yang bertindak dalam kapasitas resmi. Ini tidak termasuk rasa sakit atau penderitaan yang timbul hanya dari, melekat pada atau terkait dengan sanksi yang sah.
2. Pasal ini tidak mengurangi ketentuan internasional atau perundang-undangan nasional yang memuat atau mungkin memuat ketentuan-ketentuan dengan penerapan yang lebih luas.

Pasal 2
1. Setiap Negara Pihak harus mengambil langkah-langkah legislatif, administratif, yudikatif atau lainnya yang efektif untuk mencegah tindakan penyiksaan di wilayah manapun di bawah yurisdiksinya.
2. Tidak ada keadaan luar biasa apa pun, apakah keadaan perang atau ancaman perang, ketidakstabilan politik internal atau keadaan darurat publik lainnya, bisa dipakai selaku pembenaran penganiayaan.
3. Perintah dari pimpinan ataupun otoritas publik tidak dapat digunakan sebagai pembenaran penyiksaan.

Pasal 3
1. Tidak ada Negara Pihak yang boleh mengusir, mengembalikan(” refouler”) ataupun mengekstradisi seorang ke Negara lain di mana terdapat alasan kuat untuk meyakini bahwa ia berada dalam bahaya menjadi sasaran penyiksaan.
2. Untuk tujuan menentukan apakah ada alasan seperti itu, otoritas yang berwenang harus mempertimbangkan semua pertimbangan yang relevan termasuk, jika memungkinkan, keberadaan di Negara yang bersangkutan dengan pola yang konsisten dari pelanggaran HAM berat, mencolok atau massal.

Pasal 4
1. Setiap Negara Pihak harus memastikan bahwa semua tindakan penyiksaan adalah pelanggaran menurut hukum pidana. Hal yang sama berlaku untuk upaya melakukan penyiksaan dan tindakan siapa pun yang merupakan keterlibatan atau partisipasi dalam penyiksaan. 2. Setiap Negara Pihak harus membuat kejahatan ini dapat dihukum dengan hukuman yang sesuai yang mempertimbangkan sifat beratnya.

Pasal 5
1. Setiap Negara Pihak harus mengambil langkah-langkah yang mungkin diperlukan untuk menetapkan yurisdiksinya atas kejahatan-kejahatan yang dirujuk dalam pasal 4 dalam kasus-kasus berikut ini:
(a) Ketika pelanggaran dilakukan di wilayah mana pun di bawah yurisdiksinya atau di atas kapal atau pesawat udara yang terdaftar di Negara itu;
(b) Ketika tersangka pelaku adalah warga negara dari Negara itu;
(c) Ketika korban adalah warga negara dari Negara itu jika Negara itu menganggapnya tepat.
2. Setiap Negara Pihak juga harus mengambil langkah-langkah yang mungkin diperlukan untuk menetapkan yurisdiksinya atas tindak pidana tersebut dalam kasus-kasus di mana tersangka pelaku berada di wilayah mana pun di bawah yurisdiksinya dan tidak mengekstradisinya sesuai dengan pasal 8 ke salah satu Negara. disebutkan dalam paragraf I artikel ini.
3. Konvensi ini tidak mengecualikan yurisdiksi kriminal yang dilaksanakan sesuai dengan hukum internal.

Pasal 6
1. Setelah dipastikan, setelah pemeriksaan informasi yang tersedia, bahwa keadaan sangat menjamin, setiap Negara Pihak yang wilayahnya ada orang yang diduga melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 hadir harus menahannya atau menahan orang lain. tindakan hukum untuk memastikan kehadirannya. Penahanan dan tindakan hukum lainnya harus sebagaimana ditentukan dalam hukum Negara itu tetapi dapat dilanjutkan hanya untuk waktu yang diperlukan untuk memungkinkan setiap proses pidana atau ekstradisi untuk dilembagakan.
2. Negara tersebut harus segera melakukan penyelidikan awal terhadap fakta-fakta.
3. Setiap orang yang ditahan sesuai dengan paragraf I pasal ini harus dibantu untuk segera berkomunikasi dengan perwakilan terdekat yang tepat dari Negara dimana dia adalah warganegara, atau, jika dia adalah orang tanpa kewarganegaraan, dengan perwakilan dari Negara dimana dia biasanya tinggal.
4. Ketika suatu Negara, berdasarkan pasal ini, telah menahan seseorang, negara tersebut harus segera memberitahu Negara-negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, ayat 1, tentang fakta bahwa orang tersebut ditahan dan keadaan yang menjamin penahanannya. . Negara yang melaksanakan investigasi awal sebagai halnya diartikan dalam bagian 2 artikel ini harus segera melaporkan temuannya kepada Negara-negara tersebut dan harus menunjukkan apakah ia bermaksud untuk melaksanakan yurisdiksi.

Pasal 7
1. Negara Pihak di wilayah di mana yurisdiksinya ditemukan seseorang yang diduga telah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 4, harus dalam kasus-kasus yang dimaksud dalam pasal 5, jika tidak mengekstradisinya, menyerahkan kasus tersebut kepada pihak berwenang yang berkompeten untuk tujuan penuntutan.
2. Pihak berwenang ini akan mengambil keputusan dengan cara yang sama seperti dalam kasus kejahatan biasa yang bersifat serius menurut hukum Negara itu. Dalam kasus-kasus yang disebut dalam pasal 5 ayat 2, standar pembuktian yang diperlukan untuk penuntutan dan pemidanaan sama sekali tidak boleh kurang ketat daripada yang berlaku dalam kasus-kasus yang disebutkan dalam pasal 5 ayat 1.
3. Setiap orang yang akan diadili sehubungan dengan pelanggaran yang disebutkan dalam pasal 4 harus dijamin diperlakukan secara adil di semua tahap proses persidangan.

Pasal 8
1. Kejahatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 akan dianggap tercantum sebagai kesalahan yang bisa diekstradisi dalam kesepakatan ekstradisi yang terdapat antara Negara-negara Pihak. Negara-negara Pihak berjanji untuk memasukkan tindak pidana tersebut sebagai tindak pidana yang bisa diekstradisi dalam tiap kesepakatan ekstradisi yang akan dibuat di antara mereka.
2. Jika suatu Negara Pihak yang mensyaratkan ekstradisi berdasarkan suatu perjanjian menerima permintaan untuk ekstradisi dari Negara Pihak lain yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi, Negara Pihak tersebut dapat menganggap Konvensi ini sebagai dasar hukum untuk ekstradisi sehubungan dengan pelanggaran tersebut. Ekstradisi harus tunduk pada persyaratan lain yang ditentukan oleh hukum Negara yang diminta.
3. Negara-negara Pihak yang tidak mensyaratkan ekstradisi berdasarkan suatu perjanjian harus mengakui pelanggaran tersebut sebagai kejahatan yang dapat diekstradisi di antara mereka sendiri dengan tunduk pada persyaratan yang ditentukan oleh hukum Negara yang diminta.
4. Pelanggaran semacam itu harus diperlakukan, untuk tujuan ekstradisi antara Negara-negara Pihak, seolah-olah telah dilakukan tidak hanya di tempat di mana pelanggaran itu terjadi tetapi juga di wilayah Negara yang diharuskan untuk menetapkan yurisdiksinya sesuai dengan pasal 5 , paragraf 1.

Pasal 9
1. Negara-negara Pihak harus saling memberikan bantuan yang paling besar sehubungan dengan proses pidana yang diajukan sehubungan dengan salah satu kejahatan yang dirujuk dalam pasal 4, termasuk penyediaan semua bukti yang mereka miliki yang diperlukan untuk persidangan.
2. Negara-negara Pihak akan melakukan peranan mereka bersumber pada bagian I artikel ini cocok dengan kesepakatan tentang bantuan hukum timbal balik yang mungkin ada di antara mereka.

Pasal 10
1. Setiap Negara Pihak harus memastikan bahwa pendidikan dan informasi mengenai larangan penyiksaan sepenuhnya disertakan dalam pelatihan personel penegakan hukum, sipil atau militer, personel medis, pejabat publik, dan orang lain yang mungkin terlibat dalam penahanan, interogasi atau perawatan. dari setiap individu yang menjadi sasaran segala bentuk penangkapan, penahanan atau pemenjaraan.
2. Setiap Negara Pihak harus memasukkan larangan ini dalam aturan atau instruksi yang dikeluarkan berkenaan dengan tugas dan fungsi orang tersebut.

Pasal 11
Setiap Negara Pihak harus tetap di bawah tinjauan sistematis aturan interogasi, instruksi, metode dan praktik serta pengaturan untuk penahanan dan perlakuan terhadap orang-orang yang menjadi sasaran segala bentuk penangkapan, penahanan atau pemenjaraan di wilayah mana pun di bawah yurisdiksinya, dengan maksud untuk mencegah kasus penyiksaan.

Pasal 12
Setiap Negara Pihak harus memastikan bahwa pihak berwenang yang kompeten melanjutkan penyelidikan yang cepat dan tidak memihak, di mana pun terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa tindakan penyiksaan telah dilakukan di wilayah mana pun di bawah yurisdiksinya.

Pasal 13
Setiap Negara Pihak harus memastikan bahwa setiap individu yang menuduh dirinya telah mengalami penyiksaan di wilayah mana pun di bawah yurisdiksinya memiliki hak untuk mengajukan pengaduan, dan agar kasusnya segera diperiksa dan tidak memihak oleh, pihak berwenang yang kompeten. Langkah-langkah harus diambil untuk memastikan bahwa pengadu dan saksi dilindungi dari semua perlakuan buruk atau intimidasi sebagai konsekuensi dari pengaduannya atau bukti apapun yang diberikan.

Pasal 14
1. Setiap Negara Pihak harus memastikan dalam sistem hukumnya bahwa korban tindakan penyiksaan mendapatkan ganti rugi dan memiliki hak yang dapat diberlakukan atas kompensasi yang adil dan memadai, termasuk sarana untuk rehabilitasi sepenuhnya. Dalam hal korban meninggal dunia akibat penyiksaan, tanggungannya berhak atas kompensasi.
2. Tidak ada dalam pasal ini yang mempengaruhi hak korban atau orang lain atas kompensasi yang mungkin ada di bawah hukum nasional.

Pasal 15
Setiap Negara Pihak harus memastikan bahwa pernyataan apa pun yang ditetapkan sebagai hasil penyiksaan tidak akan digunakan sebagai bukti dalam persidangan, kecuali terhadap orang yang dituduh melakukan penyiksaan sebagai bukti bahwa pernyataan itu dibuat.

Pasal 16
1. Setiap Negara Pihak harus berusaha untuk mencegah di wilayah mana pun di bawah yurisdiksinya tindakan lain dari perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat yang tidak termasuk penyiksaan sebagaimana didefinisikan dalam pasal I, ketika tindakan tersebut dilakukan oleh atau atas dorongan atau dengan persetujuan atau persetujuan dari pejabat publik atau orang lain yang bertindak dalam kapasitas resmi. Secara khusus, kewajiban yang tercantum dalam pasal 10, 11, 12 dan 13 akan berlaku dengan penggantian referensi penyiksaan terhadap bentuk lain dari perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat.
2. Ketentuan-ketentuan Konvensi ini tidak mengurangi ketentuan dari instrumen internasional atau hukum nasional lainnya yang melarang perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat atau yang berkaitan dengan ekstradisi atau pengusiran.

BAGIAN II

Pasal 17
1. Harus dibentuk Komite Menentang Penyiksaan (selanjutnya disebut Komite) yang akan menjalankan fungsi-fungsi yang selanjutnya disediakan. Komite terdiri dari sepuluh ahli dengan moral yang tinggi dan kompetensi yang diakui di bidang hak asasi manusia, yang akan mengabdi dalam kapasitas pribadi mereka. Para ahli akan dipilih oleh Negara-Negara Pihak, pertimbangan diberikan pada distribusi geografis yang adil dan kegunaan partisipasi dari beberapa orang yang memiliki pengalaman hukum.

2. Para anggota Komite akan dipilih dengan pemungutan suara rahasia dari daftar orang-orang yang dicalonkan oleh Negara-negara Pihak. Setiap Negara Pihak dapat mencalonkan satu orang dari antara warga negaranya sendiri. Negara-negara Pihak harus mengingat kegunaan dari mencalonkan orang-orang yang juga merupakan anggota Komite Hak Asasi Manusia yang dibentuk berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan yang bersedia menjadi anggota Komite Menentang Penyiksaan.

3. Pemilihan anggota Komite akan diadakan pada pertemuan dua tahunan Negara Pihak yang diselenggarakan oleh Sekretaris Jenderal PBB. Pada pertemuan-pertemuan tersebut, dimana dua pertiga dari Negara Pihak merupakan kuorum, orang-orang yang dipilih untuk Komite adalah mereka yang memperoleh jumlah suara terbesar dan mayoritas mutlak dari suara perwakilan Negara-negara Pihak yang hadir dan memberikan suara.

4. Pemilihan pertama akan diadakan selambat-lambatnya enam bulan setelah tanggal mulai berlakunya Konvensi ini. Di. Empat bulan sebelum tanggal setiap pemilihan, Sekretaris Jenderal PBB akan mengirimkan pesan pada Negari Pihak yang mengundang mereka buat mengajukan penamaan mereka dalam durasi tiga bulan. Sekretaris Jenderal harus menyiapkan daftar dalam urutan abjad dari semua orang yang dinominasikan, menunjukkan Negara-negara Pihak yang telah mencalonkan mereka, dan akan menyerahkannya kepada Negara-negara Pihak.

5. Anggota Komite akan dipilih untuk masa jabatan empat tahun. Mereka berhak untuk dipilih kembali jika dicalonkan kembali. Namun, masa jabatan lima anggota yang dipilih pada pemilihan pertama akan berakhir pada akhir dua tahun; segera setelah pemilihan pertama, nama-nama dari lima anggota ini akan dipilih secara undian oleh ketua rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 pasal ini.

6. Jika seseorang unit Komite tewas ataupun mengundurkan diri ataupun karena sebab lain tidak dapat lagi menjalankan tugas Komite, Negara Pihak yang mencalonkannya harus menunjuk ahli lain dari antara warga negaranya untuk bertugas selama sisa masa jabatannya, tunduk pada persetujuan dari mayoritas Negara Pihak. Persetujuan akan dianggap diberikan kecuali setengah atau lebih dari Negara-negara Pihak menanggapi secara negatif dalam waktu enam minggu setelah di kasih tau oleh Sekretaris Jenderal PBB tentang pengangkatan yang diusulkan.

7. Negara-negara yang bertanggung jawab atas biaya para anggota Komite selama mereka melaksanakan tugas-tugas Komite.

Pasal 18
1. Komite akan memilih pengurusnya untuk jangka waktu dua tahun. Mereka mungkin terpilih kembali.
2. Komite harus menetapkan aturan prosedurnya sendiri, tetapi aturan ini harus mengatur, antara lain, bahwa:
(a) Enam anggota akan membentuk kuorum;
(b) Keputusan Komite harus diambil dengan suara terbanyak dari anggota yang hadir.
3. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa harus menyediakan staf dan fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan fungsi Komite yang efektif menurut Konvensi ini.
4. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengadakan pertemuan pertama Komite. Setelah pertemuan pertamanya, Komite akan bertemu pada waktu-waktu yang ditentukan dalam aturan tata kerjanya.
5. Negara-negara Pihak akan bertanggung jawab atas biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan penyelenggaraan pertemuan-pertemuan Negara-Negara Pihak dan Komite, termasuk penggantian kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk setiap pengeluaran, seperti biaya staf dan fasilitas, yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat. Bangsa sesuai dengan paragraf 3 artikel ini.

Pasal 19

1. Negara-negara Pihak harus menyampaikan kepada Komite, melalui Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, laporan-laporan tentang langkah-langkah yang telah mereka ambil untuk memberlakukan usaha mereka berdasarkan Konvensi ini, dalam waktu satu tahun setelah berlakunya Konvensi untuk Negara Pihak yang bersangkutan. Setelah itu, Negara-negara Pihak harus menyerahkan laporan tambahan setiap empat tahun tentang setiap tindakan baru yang diambil dan laporan lain yang mungkin diminta oleh Komite.

2. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengirimkan laporan tersebut kepada semua Negara Pihak.

3. Setiap laporan harus dipertimbangkan oleh Komite yang dapat membuat komentar umum tentang laporan tersebut jika dianggap tepat dan akan meneruskannya ke Negara Pihak yang bersangkutan. Negara Pihak tersebut dapat menanggapi dengan pengamatan apa pun yang dipilihnya kepada Komite.

4. Komite dapat, atas kebijakannya sendiri, memutuskan untuk memasukkan setiap komentar yang dibuat olehnya sesuai dengan ayat 3 pasal ini, bersama dengan pengamatan yang diterima dari Negara Pihak yang bersangkutan, dalam laporan tahunannya yang dibuat sesuai dengan pasal 24. Jika diminta oleh Negara Pihak terkait, Komite juga dapat menyertakan salinan laporan yang diserahkan berdasarkan paragraf I pasal ini.

Pasal 20

1. Jika Komite menerima informasi yang dapat dipercaya yang tampaknya mengandung indikasi yang beralasan kuat bahwa penyiksaan sedang dilakukan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak, Komite akan mengundang Negara Pihak tersebut untuk bekerja sama dalam pemeriksaan informasi dan untuk tujuan ini untuk menyampaikan pengamatan berkenaan dengan informasi yang bersangkutan.

2. Mempertimbangkan setiap pengamatan yang mungkin telah disampaikan oleh Negara Pihak terkait, serta informasi relevan lainnya yang tersedia untuknya, Komite dapat, jika memutuskan bahwa hal ini dijamin, menunjuk satu atau lebih anggotanya untuk membuat penyelidikan rahasia dan segera melaporkan kepada Komite.

3. Jika penyelidikan dilakukan sesuai dengan ayat 2 pasal ini, Komite akan meminta kerjasama dari Negara Pihak yang bersangkutan. Dalam kesepakatan dengan Negara Pihak tersebut, penyelidikan semacam itu dapat mencakup kunjungan ke wilayahnya.

4. Setelah memeriksa temuan-temuan anggota atau anggotanya yang diserahkan sesuai dengan paragraf 2 pasal ini, Komisi harus menyampaikan temuan-temuan ini kepada Negara Pihak yang bersangkutan bersama dengan komentar atau saran yang tampaknya tepat untuk melihat situasi tersebut.

5. Semua persidangan Komite sebagaimana dimaksud dalam paragraf I sampai 4 dari aula pasal bersifat rahasia, dan pada semua tahapan persidangan, kerjasama Negara Pihak harus diupayakan. Setelah proses tersebut diselesaikan sehubungan dengan penyelidikan yang dibuat sesuai dengan ayat 2, Komite dapat, setelah berkonsultasi dengan Negara Pihak yang bersangkutan, memutuskan untuk memasukkan akun ringkasan dari hasil-hasil persidangan dalam laporan tahunannya yang dibuat sesuai dengan Pasal 24.

Pasal 21
1. Suatu Negara Pihak pada Konvensi ini dapat setiap saat menyatakan berdasarkan pasal ini bahwa ia mengakui kompetensi Komite untuk menerima dan mempertimbangkan komunikasi yang menyatakan bahwa suatu Negara Pihak mengklaim bahwa Negara Pihak lain tidak memenuhi kewajibannya berdasarkan Konvensi ini. Komunikasi semacam itu dapat diterima dan dipertimbangkan menurut prosedur yang ditetapkan dalam pasal ini hanya jika diajukan oleh suatu Negara Pihak yang telah membuat pernyataan yang mengakui berkenaan dengan kompetensi Komite itu sendiri. Tidak ada komunikasi yang akan ditangani oleh Komite berdasarkan pasal ini jika hal itu berkaitan dengan Negara Pihak yang belum membuat pernyataan seperti itu. Komunikasi yang diterima berdasarkan pasal ini akan ditangani sesuai dengan prosedur berikut;

(a) Jika suatu Negara Pihak menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak memberlakukan ketentuan-ketentuan Konvensi ini, ia dapat, melalui komunikasi tertulis, menyampaikan masalah tersebut kepada perhatian Negara Pihak tersebut. dalam durasi 3 bulan setelah menerima komunikasi, Negara penerima harus memberikan penjelasan atau pernyataan tertulis lainnya kepada Negara yang mengirimkan komunikasi tersebut yang mengklarifikasi masalah tersebut, yang harus mencakup, sejauh mungkin dan relevan, rujukan pada prosedur domestik dan perbaikan yang diambil. , menunggu keputusan atau tersedia dalam masalah tersebut;
(b) Jika masalah tersebut tidak disesuaikan dengan kepuasan kedua Negara Pihak yang bersangkutan dalam waktu enam bulan setelah penerimaan komunikasi awal oleh Negara penerima, salah satu Negara berhak untuk merujuk masalah tersebut kepada Komite, dengan pemberitahuan yang diberikan kepada Komite dan Negara lainnya;
C Ini bukanlah aturan di mana penerapan pemulihan diperpanjang secara tidak wajar atau tidak mungkin memberikan pemulihan yang efektif bagi orang yang menjadi korban pelanggaran Konvensi ini;
(d) Komite akan mengadakan rapat tertutup ketika memeriksa komunikasi berdasarkan pasal ini; (e) Tunduk pada ketentuan sub-ayat
(e), Komite wajib menyediakan jasa-jasa baiknya kepada Negara-negara Pihak yang berkepentingan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah secara bersahabat berdasarkan penghormatan terhadap kewajiban-kewajiban yang diatur dalam Konvensi ini. Untuk tujuan ini, Komite dapat, jika perlu, membentuk komisi konsiliasi ad hoc;
(f) Dalam masalah apa pun yang dirujuk berdasarkan pasal ini, Komite dapat meminta Negara-negara Pihak terkait, sebagaimana dimaksud dalam sub-ayat (b), untuk memberikan informasi yang relevan;
(g) Negara-negara Pihak terkait, sebagaimana dimaksud dalam sub-ayat (b), berhak untuk diwakili ketika masalah tersebut sedang dipertimbangkan oleh Komite dan untuk menyampaikan secara lisan dan / atau tertulis;
(h) Komite akan, dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal penerimaan pemberitahuan di bawah sub-ayat (b), menyerahkan laporan:
(i) Jika solusi dalam ketentuan sub-ayat (e) tercapai, Komite akan menghalangi laporannya pada statment singkat perihal kenyataan dan solusi yang dicapai;
(ii) Jika solusi dalam ketentuan sub-ayat (e) tidak tercapai, Komite akan menghalangi laporannya pada statment singkat mengenai kenyataan ; pengajuan tertulis dan catatan dari pengajuan lisan yang dibuat oleh Negara-negara Pihak yang bersangkutan harus dilampirkan pada laporan.

Dalam setiap masalah, laporan tersebut harus dikomunikasikan kepada Negara-negara Pihak terkait.

2. Ketentuan pasal ini mulai berlaku ketika lima Negara Pihak pada Konvensi ini telah membuat pernyataan berdasarkan ayat 1 pasal ini. Deklarasi tersebut akan disimpan oleh Negara-negara Pihak pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang akan mengirimkan salinannya kepada Negara-negara Pihak lainnya. Sebuah deklarasi dapat ditarik setiap saat dengan pemberitahuan kepada Sekretaris Jenderal. Pengunduran diri tersebut tidak akan mengurangi pertimbangan tentang masalah apa pun yang merupakan subjek komunikasi yang telah dikirimkan berdasarkan pasal ini; tidak ada komunikasi lebih lanjut oleh Negara Pihak mana pun yang akan diterima berdasarkan pasal ini setelah pemberitahuan penarikan pernyataan diterima oleh Sekretaris Jenderal, kecuali Negara Pihak yang bersangkutan telah membuat pernyataan baru.

Pasal 22
1. Suatu Negara Pihak pada Konvensi ini dapat setiap saat menyatakan berdasarkan pasal ini bahwa ia mengakui kompetensi Komite untuk menerima dan mempertimbangkan komunikasi dari atau atas nama individu yang tunduk pada yurisdiksinya yang mengklaim sebagai korban pelanggaran oleh suatu Negara. Pihak dari ketentuan Konvensi. Tidak ada komunikasi yang akan diterima oleh Komite jika itu menyangkut Negara Pihak yang belum membuat pernyataan seperti itu.

2. Komite akan mempertimbangkan komunikasi apa pun yang tidak dapat diterima berdasarkan pasal ini yang tidak disebutkan namanya atau yang dianggap sebagai penyalahgunaan hak penyampaian komunikasi tersebut atau tidak sesuai dengan ketentuan Konvensi ini.

3. Tunduk pada ketentuan ayat 2, Komite harus menyampaikan setiap komunikasi yang diserahkan kepadanya berdasarkan pasal ini untuk menjadi perhatian Negara Pihak pada Konvensi ini yang telah membuat pernyataan berdasarkan ayat I dan diduga melanggar ketentuan manapun dari Konvensi. Dalam enam bulan, Negara penerima harus menyerahkan kepada Komite penjelasan tertulis atau pernyataan yang mengklarifikasi masalah dan perbaikan, jika ada, yang mungkin diambil oleh Negara itu.

4. Komite akan mempertimbangkan komunikasi yang diterima berdasarkan pasal ini dengan memperhatikan semua informasi yang disediakan untuknya oleh atau atas nama individu dan oleh Negara Pihak yang bersangkutan. 5. Komite tidak akan mempertimbangkan komunikasi apa pun dari seseorang berdasarkan pasal ini kecuali Komite telah memastikan bahwa:

(a) Masalah yang sama belum, dan tidak sedang, diperiksa berdasarkan prosedur investigasi atau penyelesaian internasional lainnya;
(b) Orang tersebut telah menghabiskan semua upaya hukum domestik yang tersedia; ini bukanlah aturan di mana penerapan pemulihan diperpanjang secara tidak wajar atau tidak mungkin membawa pembebasan yang efektif bagi orang yang menjadi korban pelanggaran Konvensi ini.

6. Komite akan mengadakan rapat tertutup ketika memeriksa komunikasi berdasarkan pasal ini.

7. Komite akan meneruskan pandangannya kepada Negara Pihak yang bersangkutan dan kepada individu.

8. Ketentuan pasal ini mulai berlaku ketika lima Negara Pihak pada Konvensi ini telah membuat pernyataan berdasarkan ayat 1 pasal ini. Deklarasi tersebut akan disimpan oleh Negara-negara Pihak pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang akan mengirimkan salinannya kepada Negara-negara Pihak lainnya. Sebuah deklarasi dapat ditarik setiap saat dengan pemberitahuan kepada Sekretaris Jenderal. Pengunduran diri tersebut tidak akan mengurangi pertimbangan tentang masalah apa pun yang merupakan subjek komunikasi yang telah dikirimkan berdasarkan pasal ini; tidak ada komunikasi lebih lanjut oleh atau atas nama individu yang akan diterima berdasarkan pasal ini setelah pemberitahuan penarikan deklarasi telah diterima oleh Sekretaris Jenderal, kecuali Negara Pihak telah membuat deklarasi baru.

Pasal 23
Anggota Komite dan komisi konsiliasi ad hoc yang dapat ditunjuk berdasarkan pasal 21, paragraf I (e), berhak atas fasilitas, hak istimewa dan kekebalan dari para ahli dalam misi untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagaimana ditetapkan dalam relevan. bagian dari Konvensi Hak Istimewa dan Kekebalan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 24
Komite harus menyerahkan laporan tahunan tentang kegiatannya berdasarkan Konvensi ini kepada Negara-negara Pihak dan kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

BAGIAN III

Pasal 25
1. Konvensi ini terbuka untuk ditandatangani oleh semua Negara. 2. Konvensi ini harus diratifikasi. Instrumen ratifikasi akan disimpan pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 26
Konvensi ini terbuka untuk aksesi oleh semua Negara. Aksesi akan berlaku dengan penyimpanan instrumen aksesi pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 27
1. Konvensi ini mulai berlaku pada hari ketiga puluh setelah tanggal penyimpanan instrumen kedua puluh ratifikasi atau aksesi pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.
2. Untuk setiap Negara yang meratifikasi Konvensi ini atau mengaksesinya setelah penyimpanan instrumen kedua puluh ratifikasi atau aksesi, Konvensi akan mulai berlaku pada hari ketiga puluh sehabis bertepatan pada penyimpanan instrumen ratifikasi ataupun aksesinya sendiri.

Pasal 28
1. Setiap Negara dapat, pada saat penandatanganan atau ratifikasi atau aksesi Konvensi ini, menyatakan bahwa ia tidak mengakui kewenangan Komite yang diatur dalam pasal 20.
2. Tiap Negeri Pihak yang sudah membuat reservasi sesuai dengan paragraf I pasal ini dapat, setiap saat, menarik reservasi ini dengan pemberitahuan pada Sekretaris Jenderal PBB.

Pasal 29
1. Tiap Negeri Pihak pada Kesepakatan ini bisa menganjurkan amandemen serta mengajukannya pada Sekretaris Jenderal PBB . Sekretaris Jenderal kemudian akan mengkomunikasikan usulan amandemen kepada Negara-negara Pihak dengan permohonan supaya mereka memberitahu dia apakah mereka mendukung konferensi Negara-negara Pihak untuk tujuan mempertimbangkan pemungutan suara d atas usulan tersebut. Apabila dalam waktu empat bulan sejak tanggal komunikasi tersebut sekurang-kurangnya sepertiga dari Negara-negara Pihak menyetujui konferensi tersebut, Sekretaris Jenderal harus menyelenggarakan konferensi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Setiap amandemen yang diadopsi oleh mayoritas Negara Pihak yang hadir dan pemungutan suara di konferensi harus diserahkan oleh Sekretaris Jenderal kepada semua Negara Pihak untuk diterima.

2. Suatu amandemen yang diadopsi sesuai dengan paragraf I pasal ini akan mulai berlaku ketika dua pertiga dari Negara Pihak pada Konvensi ini telah memberitahu Sekretaris Jenderal PBB bahwa mereka telah menerimanya sesuai dengan proses konstitusional masing-masing.

3. Ketika amandemen mulai berlaku, amandemen tersebut akan mengikat Negara-negara Pihak yang telah menerimanya, Negara-negara Pihak lainnya masih terikat oleh ketentuan-ketentuan Konvensi ini dan setiap amandemen sebelumnya yang telah mereka terima.

Pasal 30
1. Setiap perselisihan antara dua atau lebih Negara Pihak mengenai interpretasi atau penerapan Konvensi ini yang tidak dapat diselesaikan melalui negosiasi, atas permintaan salah satu dari mereka, akan diajukan ke arbitrase. Jika dalam waktu enam bulan sejak tanggal permintaan arbitrase Para Pihak tidak dapat menyetujui organisasi arbitrase, salah satu Pihak tersebut dapat merujuk sengketa tersebut ke Mahkamah Internasional dengan permintaan sesuai dengan Statuta Pengadilan. .

2. Setiap Negara dapat, pada dikala penandatanganan ataupun ratifikasi Kesepakatan ini ataupun Aksesi, menyatakan bahwa ia tidak menganggap dirinya terikat oleh ayat I pasal ini. Negara-negara Pihak lainnya tidak akan terikat oleh paragraf I pasal ini sehubungan dengan Negara Pihak mana pun yang telah membuat reservasi tersebut.

3. Setiap Negara Pihak yang telah membuat reservasi sesuai dengan paragraf 2 pasal ini dapat setiap saat menarik kembali reservasi ini dengan pemberitahuan pada Sekretaris Jenderal PBB.

Pasal 31
1. Sesuatu Negeri Pihak bisa membatalkan Konvensi ini dengan pemberitahuan tercatat pada Sekretaris Jenderal PBB. Penarikan diri berlaku efektif satu tahun setelah tanggal penerimaan- pemberitahuan oleh Sekretaris Jenderal.

2. Pencabutan diri itu tidak akan berakibat pada pembebasan Negara Pihak dari kewajibannya berdasarkan Konvensi ini sehubungan dengan setiap tindakan atau kelalaian yang terjadi sebelum tanggal penarikan diri berlaku, juga tidak akan mencabut prasangka dengan cara apapun. pertimbangan tentang masalah apa pun yang telah dipertimbangkan oleh Komite sebelum tanggal penarikan diri berlaku efektif.

Baca juga : Beberapa Hal yang Menjadi Alasan untuk Tahu Kebijakan Hukum

3. Setelah tanggal berlakunya pengunduran diri dari suatu Negara Pihak, Komite tidak akan memulai pertimbangan masalah baru apa pun tentang Negara tersebut.

Pasal 32
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa harus menginformasikan kepada semua Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa dan semua Negara yang telah menandatangani Kesepakatan ini ataupun menyetujuinya tentang keadaan berikut ini:

(a) Tanda tangan, ratifikasi dan aksesi berdasarkan pasal 25 dan 26;
(b) Tanggal mulai berlakunya Konvensi ini berdasarkan pasal 27 dan tanggal berlakunya setiap amandemen berdasarkan pasal 29;
(c) Pengunduran diri berdasarkan pasal 31.

Pasal 33
1. Konvensi ini, yang naskahnya dalam bahasa Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia dan Spanyol adalah sama otentiknya, akan disimpan pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.
2. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengirimkan salinan resmi Konvensi ini ke semua Negara.

The Torture Report - Informasi investigasi tentang program penyiksaan Pemerintahan